Tampilkan postingan dengan label tulis tangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulis tangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2015

Husein Djajadiningrat. III.

Pengirim dan penerima surat ini, dua-duanya orang-orang terkenal pada jamannya yaitu RM. Noto Soeroto dan Doctor R. Husein Djajadiningrat.
Raden Mas Noto Soeroto putra keluarga bangsawan Pakualam, salah satu pendiri 'Perhimpunan Indonesia' di Belanda.
Ia dikirim ayahnya ke Belanda untuk belajar hukum, disana bersama teman-temannya, diantaranya Sosrokartono, R. Husein Djajadiningrat, Notodiningrat, Sumitro Kolopaking dll. mendirikan 'Indische Vereeniging', menjadi pimpinannya tahun 1911-1914, kemudian pada th. 1924 berubah menjadi 'Perhimpunan Indonesia'
Bahkan pada saat dibawah kepimpinan M. Hatta, 'Perhimpunan Indonesia' resmi diakui sebagai garda terdepan pergerakan kebangsaan oleh PPKI yang diketuai Ir. Sukarno.
Selain beroganisasi, RM. Noto Soeroto adalah wartawan, penulis, aktivis budaya dan penyair Indonesia, dialah penyair dari Jawa yang pertama karyanya bisa masuk dan dikenal dalam ranah kesusateraan Belanda.
Sedang mengenai DR. Husein Djajadiningrat, kisahnya sudah diunggah pada Surat-surat Husein Djajadiningrat I.
Gambar atas kiri adalah RM. Noto Soeroro, sedang sebelah kanan DR. Husein Djajadiningrat.

Gambar atas kiri kanan adalah amplop surat lengkap dengan prangko, stempel s'Gravenhage didepan dan Leiden dibelakang.

Diatas adalah gambar detail kop surat Raden Mas Noto Soeroto, sedang dibawah gambar detail tanda tangan RM. Noto Soeroto.

Isi surat tidak dibahas.
Data sejarah, lukisan dan foto diambil dari internet.

Minggu, 07 Desember 2014

Husein Djajadiningrat. II

Kartupos dibawah ini ditujukan kepada Rd. Hoesein Djajadiningrat, saat itu sedang belajar untuk mendapatkan gelar doctor di Leiden, Belanda.
Kartupos ini dikirim dari Batavia, stempel pos 'Weltevreden' 17 Mei 1911', jadi umur kartupos ini sudah seabad lebih 3 tahun. 
Butuh waktu sebulan lebih, surat tersebut baru sampai, stempel pos 'Leiden, 23 Juni 1911'.

Pengirimnya adalah Dr. D.A. Rinkes, digelari sebagai Bapak Balai Pustaka.
Dia tinggal di daerah Mesteer Cornelis (sekarang Jatinegara).

Sesuai dengan jamannya, surat-surat menggunakan bahasa Belanda.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Sampul Narpowandowo dan isi suratnya, th. 1929.

Kali ini 'perangko' mengunggah kembali, apa yang sudah diunggah oleh 'mmzrarebooks.blogspot.com', karena isi surat yang ada didalam sampul sangat menarik, bukan sekedar sampul dan kertas kosong, tapi karena isi suratnya sangat menarik dan mempunyai nilai historis dan keaslian tinggi.
"Narpowandowo" adalah paguyuban/organisasi, anggotanya para kerabat dan pejabat Keraton Kasunanan Surakarta. Resmi dan Susuhunan Surakarta sebagai pelindungnya.

Gambar atas adalah surat yang ada didalam amplop, menggunakan kertas surat resmi, lambang dan namanya tercetak disebelah kiri atas, surat dalam aksara Jawa, bunyinya sbb:
Ongka 74/185.
"Katur K.P.H. Suryahamijaya, R.T. Gitadipura, R. Yasawinata."
"Wiyosipun, 'Pangreh' Narpowandowo ngaturi uninga,'panitya' bondha pasinaon sampun kabibaraken, awit miturut pranatan bondha pasinaon anyar, kedah andhapuk panitya anyar, amila Pangreh ngaturaken panuwun, dene K.P.H. Suryahamijaya, R.T. Gitadipura, R. Yasawinata, sampun tigang tahun nindakaken kewajibaning Panitya, wilujeng."
"Surat ditandatangani oleh : Mudhapangarsa dan Panitya I".

Inti suratnya adalah : 
'dengan adanya peraturan  baru, bagian pembiaya pendidikan harus membentuk pengurus baru, maka Ketua memberhentikan 3 pengurus lama yang sudah melaksanakan kewajiban selama 3 tahun dengan ucapan terima kasih'.  

Gambar atas adalah sebuah amplop resmi "Narpowandowo - Solo", lambang dan namanya tercetak disebelah kiri atas.
Tulisan aksara Jawa : 
Serat ongka : 74/185, katur R.T. Gitadipura. 
Bahasa Indonesia nya : 
Surat nomer : 74/185, ditujukan kepada Raden Tumenggung Gitadipura.


Dari memperhatikan amplop dan isinya, ditulis tangan, aksara Jawa, kita bisa mengetahui sebuah cerita sejarah  dengan seting waktu pertengahan th. 1929, terjadi perubahan  pengurus dan kebijakan baru pada organisasi 'Narpowandowo' . Ini yang dimaksud dengan nilai historis & keaslian tinggi.

Surat ini ditujukan kepada Raden Tumenggung Gitadipura, sebagai pemberitahuan mengenai adanya perubahan pengurus dan ucapan terima kasih, telah melaksanakan kewajibannya selama 3 tahun.

Ada 3 istilah menarik/aneh yang terbaca dalam surat, mungkin memang lazim digunakan pada saat itu, yaitu 'Pangreh', kemungkinan sebagai 'Ketua', istilah 'Panitya' sebagai 'pengurus', sedang 'bondha pasinaon' adalah bagian 'pembiayaan pendidikan'. Maaf kalau ada kekeliruan penafsiran.