Jumat, 07 November 2014

Prangko. Chinese Album 2010.

Cover depan Album Prangko China 2010 dengan tema "Spring In The Air" dikeluarkan bertepatan dengan Tahun Baru Musim Semi di China.

Gambar dan kaligrafi mempunyai karakter yang kuat.
Sesuai dengan negara tirai bambu, pewarnaannya berani.
Namun sayang, tidak banyak yang bisa diceritakan karena tidak bisa bacanya.
Diatas adalah 2 halaman album, keduanya berisi 'Souvenir sheet', 

Halaman diatas juga berisi 'Souvenir sheet'

Dua halaman diatas, yang kiri berisi 'prangko' dan 'souvenir sheet' sedang sebelah kanan berisi 'prangko'.

Halaman atas berisi 'prangko'.

Gambar bawah adalah halaman terakhir juga bagian dalam cover belakang album, terdapat semavam amplop lipat.
Didalam amplop tersebut terdapat 3 buah 'souvenir sheet'.

Kamis, 06 November 2014

Prangko Perancis yang Pertama.

Barangkali bagi para kolektor prangko, tidak heran melihat prangko tua dan langka.
Sebetulnya memang bukan prangkonya yang ingin ditampilkan, melainkan cara penyimpanannya.
Prangkonya ditempelkan pada album foto yang ada perekat dan ada penutup plastiknya, jadi prangkonya lengket menjadi satu dengan media yang biasanya untuk menempel foto (gambar bawah).
Maksud pemilik koleksi prangko tentunya baik karena prangko tidak bisa lepas lagi jadi tidak hilang atau diambil orang lain dan aman dari debu atau kotoran lainnya.
Salah nggak ya?

Gambar bawah adalah gambar kelompok prangko Perancis.

Banyak prangko tua yang ditempelkan di album foto tersebut.
Dibawah adalah gambar-gambar prangko dikelompok prangko Perancis, diantaranya :
Gambar atas adalah prangko Perancis pertama, issue pada th. 1849-1850.


Gambar atas, prangko tema 'Peace and Commerce', issue th. 1876 -1878, digunakan pada th. 1877 (stempel pos).

Gambar atas kanan adalah prangko gambar Napoleon III, digunakan pada th. 1879 (stempel pos).

Semua keterangan sesuai dengan 'Scott  Standard Postage Stamp Catalogue', th. 1976.
Masih banyak tertempel prangko-prangko tua di lembar kelompok lain diataranya kelompok Nedeland Indie, India, Denmark dan lainnya.

Kamis, 11 September 2014

Telegram dari Pakualam, Jogja, th. 1948.

'kami sekeluarga dan kangjeng ibu menjampaikan selamat bernikahnya putrada koma berhalangan hadlir  pakualam'. 
Demikian isi telegram dibawah ini.
.

Maksudnya,  'kami sekeluarga dan kanjeng Ibu menyampaikan selamat atas menikahnya putranda, kami berhalangan hadir, dari pakualam'.
Melihat tahun pengirman adalah th. 1948, maka Pakualam disini adalah Raja Pakualam VIII.

Telegram dikirim dari Jogjakarta.


Dierima di Solo tanggal 27 Oktober 1948, pk. 15.35

Diatas adalah gambar Raja Pakualam VIII, menjabat dari th. 1937 - 1998. 

Rabu, 10 September 2014

Husein Djajadiningrat. I


Pengirim surat yang diunggah ini adalah Mr. J. H. Abendanon, dan surat ini dikirim kepada RM. Husein Djajadiningrat.
Dibawah ini gambar surat ditulis tangan,  surat dikirim dari Den Hag pada tanggal 13 Juli 1910, ke Leiden, menggunakan kertas ukuran 23 x 18 cm, dilipat dua, ditulis bolak balik, lengkap prangko dan stempel pos ‘SGravenhag dan Leiden.



Dibawah ini adalah gambar amplop berukuran 12 x 9.5 cm, yang digunakan, tulis tangan mirip dengan tulisan yang di surat, lengkap dengan prangko dan stempel pos ‘SGravenhag dan Leiden.


Nama Abendanon (gambar kanan) adalah nama yang tidak asing dikalangan pecinta Raden Ajeng Kartini.
Dialah penyusun surat-surat R.A. Kartini yang terkirimkan ke teman-teman R.A. Kartini di Belanda. Kumpulan surat-surat tersebut dibukukan, dengan judul 'Door Duisternis Tot Licht Gedachten van Raden Adjeng Kartini' diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi 'Habis Gelap Terbitlah Terang'.



Gambar kanan adalah RM. Husein Djajadiningrat. Dia adalah ilmuwan, peneliti, penulis dan sastrawan.
Jabatan dan prestasinya dari th. 1919, sejak jaman Belanda, Jepang sampai jaman kemerdekaan :
- Pembina majalah Sunda, Sekar Roekoen,
- Menerbitkan majalah Pusaka Sunda,
- Menjadi redaktur majalah Djawa bersama R. Ng. Poebatjaraka,
- Direksi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen,
- Menteri Pengajaran, Kesenian dan Ilmi Pengetahuan, th. 1948.
- Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia, th 1952.
- Menyusun Kamus bahasa Aceh – Belanda.
- dan masih ada jabatan maupun karya tulis lainnya.

Sedang gambar bawah adalah buku 'Habis Gelap terbitlah Terang' dalam bahasa Belanda dan Indonesia. 


Gambar diatas, hampir semua orang Indonesia tahu, R.A. Kartini.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Sampul Narpowandowo dan isi suratnya, th. 1929.

Kali ini 'perangko' mengunggah kembali, apa yang sudah diunggah oleh 'mmzrarebooks.blogspot.com', karena isi surat yang ada didalam sampul sangat menarik, bukan sekedar sampul dan kertas kosong, tapi karena isi suratnya sangat menarik dan mempunyai nilai historis dan keaslian tinggi.
"Narpowandowo" adalah paguyuban/organisasi, anggotanya para kerabat dan pejabat Keraton Kasunanan Surakarta. Resmi dan Susuhunan Surakarta sebagai pelindungnya.

Gambar atas adalah surat yang ada didalam amplop, menggunakan kertas surat resmi, lambang dan namanya tercetak disebelah kiri atas, surat dalam aksara Jawa, bunyinya sbb:
Ongka 74/185.
"Katur K.P.H. Suryahamijaya, R.T. Gitadipura, R. Yasawinata."
"Wiyosipun, 'Pangreh' Narpowandowo ngaturi uninga,'panitya' bondha pasinaon sampun kabibaraken, awit miturut pranatan bondha pasinaon anyar, kedah andhapuk panitya anyar, amila Pangreh ngaturaken panuwun, dene K.P.H. Suryahamijaya, R.T. Gitadipura, R. Yasawinata, sampun tigang tahun nindakaken kewajibaning Panitya, wilujeng."
"Surat ditandatangani oleh : Mudhapangarsa dan Panitya I".

Inti suratnya adalah : 
'dengan adanya peraturan  baru, bagian pembiaya pendidikan harus membentuk pengurus baru, maka Ketua memberhentikan 3 pengurus lama yang sudah melaksanakan kewajiban selama 3 tahun dengan ucapan terima kasih'.  

Gambar atas adalah sebuah amplop resmi "Narpowandowo - Solo", lambang dan namanya tercetak disebelah kiri atas.
Tulisan aksara Jawa : 
Serat ongka : 74/185, katur R.T. Gitadipura. 
Bahasa Indonesia nya : 
Surat nomer : 74/185, ditujukan kepada Raden Tumenggung Gitadipura.


Dari memperhatikan amplop dan isinya, ditulis tangan, aksara Jawa, kita bisa mengetahui sebuah cerita sejarah  dengan seting waktu pertengahan th. 1929, terjadi perubahan  pengurus dan kebijakan baru pada organisasi 'Narpowandowo' . Ini yang dimaksud dengan nilai historis & keaslian tinggi.

Surat ini ditujukan kepada Raden Tumenggung Gitadipura, sebagai pemberitahuan mengenai adanya perubahan pengurus dan ucapan terima kasih, telah melaksanakan kewajibannya selama 3 tahun.

Ada 3 istilah menarik/aneh yang terbaca dalam surat, mungkin memang lazim digunakan pada saat itu, yaitu 'Pangreh', kemungkinan sebagai 'Ketua', istilah 'Panitya' sebagai 'pengurus', sedang 'bondha pasinaon' adalah bagian 'pembiayaan pendidikan'. Maaf kalau ada kekeliruan penafsiran.


Selasa, 16 Juli 2013

Kartupos, rindunya seorang suami.

Buat : istriku tersayang, . . .(nama dan alamat) 
Dengan ucapan : jangan segan2 membuat surat, bapak minta 2x sebulan sebagai hiburan ditempat tugas.
Datangnya dari suamimu, sersan mayor . . . .(nama) yang sedang rindu.

Demikian ungkapan rasa rindu/kangen yang sangat kuat, seorang suami setelah berbulan-bulan meninggalkan istrinya ribuan kilometer jaraknya karena sedang mengemban tugas negara, berjuang dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Sang suami mengirim kartupos ini kepada Radio Republik Indonesia Programa 2 Nasional, Jakarta, minta diputarkan sebuah lagu dan dibacakan pesan ditujukan kepada istrinya, berharap agar istrinya terhibur mendengarkan lagu dan pesan dari suaminya, sesuai dengan yang tertulis di kartupos.

Pada th. 1970, komunikasi jarak jauh antar penduduk sulit terlaksana, sulit untuk berbicara langsung,  maka bisa mendengarkan lagu kiriman dari keluarga yang sangat dicintai adalah suatu kenikmatan atau kebahagian yang sulit diceritakan dengan kata-kata, apalagi menerima suratnya (kartupos atau yang lainnya), rasa nikmat dan bahagia menjadi berlipat karena bisa disimpan dan dibaca berulang-ulang
Berbeda dengan jaman sekarang dimana teknologi berkembang sangat pesat, hubungan antar muka antar benua biasa dilakukan seketika, rasanya ya biasa-biasa saja.

Maaf nama-nama yang tercantum sengaja di buramkan.

Minggu, 23 Juni 2013

Kartu pos. Voice Of America, 1959.

Jaman dahulu,
setengah abad yang lalu,
tidak gampang orang ingin mendengar lagu,
hanya kalangan tertentu,
harus punya alat pemutar dahulu,
dengan piringan hitam berisi lagu,
dan harganya sungguh terlalu.
Jangan risau, ini keadaan jaman dulu.

Ada cara mudah dan murah untuk bisa mengdengarkan lagu yang diinginkan. Yaitu minta kepada Stasiun Radio. Sejumlah Stasiun Radio, baik siaran dalam negeri, RRI Radio Republik Indonesia maupun siaran dari Luar Negri, diantaranya BBC dari Inggris dan VOA dari Amerika untuk memutarkan lagu-lagu yang kita inginkan.

Gambar disamping ini adalah Kartupos dari Stasiun Radio 'Voice Of America' biasa disingkat VOA, berisi jadwal pemutaran lagu, sekaligus nama lagu-lagunya, dikirimkan kepada Sdr. Surono di Salemba Tengah, Jakarta

Bila menghendaki, kita bisa mendapatkan jadwal siaran lagu, sehingga kita bisa memilih lagu yang kita inginkan dan kita bisa mengirim pesan kepada kenalan kita atau kekasih kita, sehingga kita bersama-sama mendengarkan lagu yang kita inginkan, walaupun jarak jauh, sungguh mengasyikan.

Acara pemilihan lagu itu di radio namanya 'Acara Pilihan Pendengar'